Kekaisaran Romawi (
bahasa Latin:
Imperium Romanum) adalah periode pasca
-Republik peradaban Romawi kuno, ditandai dengan bentuk pemerintahan
autokrasi dan wilayah kekuasaan yang lebih luas di Eropa dan sekitar Mediterania.
Republik Romawi yang betahan selama 500 tahun dan lebih dulu ada, telah melemah dan
runtuh melalui beberapa
perang saudara. Beberapa peristiwa banyak diajukan sebagai penanda peralihan dari Republik menjadi Kekaisaran, termasuk penunjukan
Julius Caesar sebagai
diktator seumur hidup (44 SM),
Pertempuran Actium (
2 September 31 SM), dan pemberian gelar
Augustus kepada
Oktavianus oleh Senat (
4 Januari 27 SM).
Ekspansi Romawi dimulai sejak masa Republik, namun Kekaisaran ini mencapai wilayah terluasnya di bawah kaisar
Trajanus: pada masa peemrintahannya (98 sampai 117 M) Kekaisaran Romai menguasai kira-kira
6.5 juta km
2
permukaan tanah. Karena wilayahnya yang luas dan jangka waktunya yang
lama, institusi dan kebudayaan Romawi memberikan pengaruh yang besar
terhadap perkembangan bahasa, agama, arsitektur, filsafat, hukum, dan
bentuk pemerintahan di daerah-daerah yang dikuasainya, khususnya di
Eropa. Ketika bangsa Eropa melakukan ekspansi ke belahan dunai lainnya,
pengaruh Romawi ikut disebarkan ke seluruh dunia.
Pada akhir abad ke-3 M,
Diokletianus memulai praktik membagi kekuasaan kepada empat ko-kaisar, dengan tujuan mengamankan wilayahnya yang luas, sekaligus mengakhiri
Krisis Abad Ketiga. Pada dekade berikutnya Kekaisaran seringkali dibagi menjadi Barat/Timur. Setelah kematian
Theodosius I pada 395 Kekaisaran dibagi untuk terakhir kalinya.
Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada 476 M setelah
Romulus Augustus dipaksa untuk menyerahkan tahtanya kepada pemimpin
Jermanik,
Odoaker. Kekaisaran Romawi Timur atau
Kekaisaran Bizantium sendiri berakhir pada tahun 1453 dengan meninggalnya
Konstantinus XI dan
penaklukan Konstantinopel oleh
Turki Ustmaniyah yang dipimpin oleh
Mehmed II.
Pemerintahan
Kaisar
Kekuasaan Kaisar (atas
imperiumnya), paling tidak secara teori, adalah berdasarkan kekuasaannya sebagai
Tribunus (
potestas tribunicia) dan sebagai Prokonsul Kekaisaran (
imperium proconsulare).
Secara teori, kekuasaan Tribunus (sebagaimana sebelumnya kekuasaan Tribunus
Pleb di masa
Republik Romawi) membuat seorang Kaisar dan jabatannya menjadi tak dapat dipersalahkan (
sacrosanctus), dan memberikan Kaisar kekuasaan untuk mengatur pemerintahan Romawi, termasuk kekuasaan untuk mengepalai dan mengontrol
Senat.
Kekuasaan Prokonsul Kekaisaran (sebagaimana sebelumnya kekuasaan
gubernur militer, atau prokonsul, di masa Republik Romawi) memberinya
wewenang atas tentara Romawi. Ia juga mendapat kekuasaan yang di masa
Republik merupakan hak dari Senat dan
Majelis Romawi, antara lain termasuk hak untuk menyatakan perang, meratifikasi perjanjian, dan bernegosiasi dengan para pemimpin asing.
Kaisar juga memiliki kewenangan untuk melaksanakan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan oleh para
Censor, termasuk kekuasaan untuk mengatur keanggotaan Senat.Selain itu, Kaisar juga mengendalikan lembaga keagamaan, karena sebagai kaisar ia adalah
Pontifex Maximus
dan merupakan salah satu anggota pimpinan dari keempat lembaga
keagamaan Romawi. Perbedaan-perbedaan wewenang tersebut meskipun jelas
di masa awal Kekaisaran, akhirnya mengabur dan kekuasaan Kaisar menjadi
kurang konstitusional dan semakin monarkis.
Pembubaran Republik Romawi (50 SM)
Julius Caesar
dikenang sebagai kaisar Romawi paling sempurna (walaupun Roma masih
merupakan sebuah republik semasa hidupnya dan jabatan kaisar belum
dibentuk hingga ia meninggal). Ia memerintah
Republik Romawi
beberapa tahun setelah penaklukan kekuatan terakhir bangsa galia di
bukit alesia, hingga kematian tragisnya di sidang senat pada 44 SM.
Kekuasaan yang dimiliki
Julius Caesar didapatkannya ketika ia masih menjabat sebagai salah satu anggota
Triumvirat (sebuah dewan pemerintahan yang terdiri atas tiga serangkai, ketika itu :
Caesar, Pompei dan Crassus)
sebagai pemimpin militer. Pada saat itulah ia memulai rencananya untuk
merebut daerah luas di utara eropa yang dikuasai bangsa Galia dengan
dukungan sahabatnya,
Pompei (106-48 SM).
Sejak dikalahkannya
Kartago, sekitar satu abad sebelum Caesar
lahir, Republik Roma dipenuhi dengan perang saudara, pemberontakan
kekuatan militer, korupsi, dan ketidak puasan terhadap dewan Senat
sebagai pusat pemerintahan. Suatu kondisi politik yang kacau di sebuah
republik yang berkuasa di laut tengah. Dengan berdirinya
Triumvirat, beberapa masalah mampu ditangani, walaupun Caesar menyadari bahwa sistem
republik sudah tidak layak dipertahankan.
Di tangan
Julius Caesar bangsa romawi mulai mewujudkan
mimpinya untuk menyerang timur laut dan utara eropa. Ia mendesak
perbatasan Romawi sampai ke daratan Inggris (Brittania) sehingga lebih
dari separuh benua eropa berada di bawah kekuasaan Republik Roma. Namun
kemenangan Caesar dianggap ancaman terhadap
republik oleh sebagian anggota Senat, bahkan
Pompei
ikut mendukung Senat untuk melawan Caesar. Keadaan tersebut memaksa
Caesar untuk melakukan Kudeta dan mengabaikan hukum pemerintahan
republik itu. Dari utara, Caesar bersama tentaranya menyerang dan merebut kota Roma dari tangan Senat, mengalahkan
Pompei dan mengejarnya sampai ke Mesir (dimana yang ia dapatkan hanya kepala
Pompei
yg tersisa akibat pembunuhan yang dilakukan persekongkolan di mesir,
hal tersebut sangat disesali oleh Caesar). Kemenangan Julius Caesar
menjadikannya sebagai penguasa Roma dengan kekuasaan mutlak. Ia terus
memerintah sampai tewas dibunuh oleh sekelompok orang yang masih
mendukung
republik pada tahun 44 SM.
Julius Caesar mengubah perjalanan sejarah Roma - dan tentu saja,
sejarah Eropa. Di Roma sendiri, ia menggulingkan pemerintahan republik
(walaupun harus melakukan kudeta dan berperang melawan teman
seperjuangannya, Pompeius magnus) dan menciptakan jabatan yang menurut
faktanya adalah seorang
kaisar, yang dijadikan jabatan resmi oleh kemenakannya
Octavianus
(63 SM-14 Masehi) ketika ia memegang kekuasaan setelah kematian
pamannya. Tatkala Caesar baru mulai memerintah, Roma adalah penguasa
utama di Laut Tengah. Pada waktu kematiannya, Roma juga menjadi
pemerintahan adikuasa yang pertama di Eropa-atau boleh jadi di seluruh
dunia (dengan pengecualian Persia dibawah
Cyrus dan Macedonia dibawah
Alexander).
Kelahiran Kekaisaran Romawi (30 SM)
Kaisar Augustus, Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Romawi
Setelah Julius Caesar tewas, ia digantikan oleh kemenakannya yang bernama
Octavianus.
Namun bukan hanya jabatan besar, masalah-masalah besar pun turut
diwariskan sang paman, selain mendapat banyak perlawanan dari
saingan-saingannya, Octavianus juga harus membongkar skandal pembunuhan
caesar yang dilakukan oleh sebuah sindikat persekongkolan yang dipimpin
Gaius Cassius dan
Markus Yunius Brutus. Oleh karenanya, ia sepakat untuk memimpin sebuah
Triumvirat (sebuah dewan pemerintahan yang terdiri atas tiga serangkai) bersama-sama
Marcus Lepidus (?-13 SM) dan
Marcus Antonius (83-30 SM).
Namun sekali lagi, pemerintahan Triumvirat ini tidak cukup berhasil,
sehingga menimbulkan banyak masalah termasuk kisah percintaan Markus
Antonius dengan ratu mesir
Cleopatra
di kemudian hari. Cleopatra sendiri adalah pemimpin terakhir dari
dinasti terakhir mesir (ptolemy), seorang ratu yang pada masa sebelumnya
juga pernah memiliki skandal percintaan dengan Caesar. Kita tinggalkan
dulu
Cleopatra,
setelah para pembunuh Julius Caesar berhasil ditangkap dan dihancurkan,
Triumvirat sepakat untuk membagi kekuasaan secara geografis, dengan
Octavianus di
Eropa,
Lepidus di
Afrika dan
Antonius di
Mesir.
Di Mesir, Markus Antonius mengawali pemerintahannya di kota kosmopolitan
Alexandria, disanalah ia bertemu
Cleopatra
(69-30 SM) yang kemudian ia nikahi (walau besar kemungkinan keduanya
pernah bertemu di saat Caesar masih hidup). Perlahan tapi pasti, sahabat
seperjuangan Julius Caesar ini mulai berpindah pihak. Ia menetapkan
ketiga anaknya sebagai penggantinya dan sering kali ia menghadiahi
istrinya dengan benda-benda yang mahal, bahkan timbul kabar angin bahwa
ia akan menghadiahkan kota Roma (yang dikuasai Octavianus) kepada
Cleopatra, sebagai hadiah.
Ketika kabar angin itu merebak dan terdengar oleh Octavianus, ia
menjadi berang dan mendeklarasikan perang melawan Anthony. Kedua belah
pihak berhadapan muka di
Pertempuran Actium Pada tahun 31 SM.
Pada pertempuran itu, pasukan Anthony berhasil di desak dan di kalahkan
(Anthony dan Cleopatra kemudian mengakhiri hidup mereka dengan bunuh
diri pada tahun
30 SM). Octavianus mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar romawi dengan berbagai gelar baru, termasuk
Imperator dan
Kaisar Augustus
(Augustus Caesar). Dengan pendeklarasian ini, maka Kekaisaran Romawi,
puncak dari dominasi politik yang dibangun selama 7 abad, resmi berdiri.
Tepatnya tahun 27 SM.
Tahun empat kaisar (69 Masehi)
Setelah Kasiar
Nero meninggal karena bunuh diri pada tahun
68, meletuslah suatu
perang saudara di Kekaisaran Romawi (perang saudara pertama sejak kematian
Antonius pada tahun 30 SM), masa yang dikenal juga dengan sebutan
Tahun empat Kaisar
(Year of the four emperors). Antara bulan Juni 68 hingga bulan Desember
69, Kaisar Romawi berganti hingga 3 kali dalam satu tahun (Nero
digantikan
Galba, Galba digantikan
Otho, Otho digantikan
Vitellius, Vitellius digantikan
Vespasian, penguasa pertama dari
dinasti Flavian).
Periode perang saudara ini sendiri dianggap menjadi awal catatan hitam
dalam sejarah Kekaisaran Romawi, karena akibat yang ditimbulkannya
berimplikasi besar pada kestabilan politik dan militer Roma saat itu.
Krisis Pada Abad ke-3 (253 - 284)
Setelah Augustus mendeklarasikan berakhirnya
perang saudara pada abad ke-1 Sebelum
Masehi,
Kekaisaran Romawi mengalami periode dimana perluasan daerah, kedamaian,
dan kemakmurah ekonomi terasa diseluruh penjuru Kekaisaran (
Pax Romana). Namun pada abad ke-tiga, Kekaisaran dihadapkan pada sebuah krisis dimana serangan bangsa
bar-bar, perang saudara, dan
hiperinflasi terjadi dalam waktu yang bersamaan dan terus menerus, yang hampir menyebabkan runtuhnya Kekaisaran Romawi.
Kekacauan ini sala satunya disebabkan karena tidak adanya suatu sistem yang jelas yang mengatur tentang
pergantian kekuasaan (succesion) sejak
Augustus
meninggal tanpa menunjuk penerus Kekaisaran (normalnya, kekuasaan akan
diserahkan kepada anak sang kaisar, namun saat itu Augustus tidak
memiliki anak). Hal ini menyebabkan kekacauan saat pergantian kekaisaran
pada abad ke-1 dan ke-2, namun biasanya kekacauan yang terjadi tidak
berlangsung lama.
Pada abad ke-3 ini, puncak kekaisaran dipimpin sekurang-kurangnya 25 Kaisar antara tahun 235 - 284 (biasa disebut
Kaisar-Militer (
Soldier-Emperor). Kebanyakan dari 25 kaisar ini tewas dibunuh atau terbunuh dalam konflik abad ke-3 ini. periode ini dianggap berakhir setelah
Diocletian berkuasa.
Penyebaran Agama Kristen di Romawi
Kurang lebih tiga abad setelah kematian
Kaisar Augustus
(wafat pada tahun 14 Masehi), Roma yang berbentuk kekaisaran telah
berkembang dengan pesatnya. Dengan wilayah yang luas dan kekuatan
militer yang tak terkalahkan, kekaisaran Romawi menjadi kekaisaran
terbesar di
dunia yang telah dikenal ketika itu, masa yang biasa disebut
Pax Romana, di mana pun terwujud.
Konstantin yang agung, atau dikenal juga dengan sebutan
Konstantin I
Pada saat inilah, agama
Kristen
mulai tumbuh dan berkembang di Roma. Tidak seperti agama-agama
sebelumnya, yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ciri-ciri
budaya suatu bangsa, agama Kristen secara aktif mempertobatkan mereka
yang belum percaya. Agama Kristen bermula dari Timur Tengah dan menyebar
hingga ke
Yunani dan
Mesir. Para utusan
Injil
Kristen terutama murid Yesus, Petrus (?-67 Masehi), perintis penyebaran
agama Kristen, bersama-sama Saulus dari Tarsus (5-67 Masehi), kini
dikenal sebagai
Paulus, memberitakan agama yang baru itu ke seluruh wilayah Kekaisaran dan bahkan sampai ke Roma.
Pada awalnya, kedatangan agama baru ini bisa ditoleransi oleh orang
Romawi. Namun pada perkembangan selanjutnya, orang Romawi mulai khawatir
akan penyebaran agama Kristen yang begitu cepatnya. Mereka
mengkhawatirkan agama ini akan memecahbelah persatuan bangsa Romawi.
Maka dimulailah pembantaian terhadap orang-orang yang memeluk agama
Kristen. Mereka dibunuh, ditindas atau dijadikan umpan singa di arena
sirkus.
Meskipun demikian, gerakan-gerakan bawah tanah orang Kristen tetap
aktif menyebarkan agama, mereka menjadikan Roma sebagai pusat gerakan
mereka.
Hingga suatu ketika, keadaan ini berubah ketika
Constantinus
(280-337 Masehi), yang memeluk agama Kristen, berkuasa. Di bawah
kepemimpinannya, agama yang awalnya ditentang ini, mulai diterima dan
bahkan dikembangkan. Bahkan, ia sempat menjadi penengah dalam sebuah
perselisihan serius mengenai doktrin antara golongan barat dan timur
dalam
Gereja. Ia mengundang para
uskup yang mewakili kedua golongan itu untuk menghadiri sebuah
Konsili Nicea tahun 325 Masehi. Di sana perbedaan-perbedaan di antara mereka diselesaikan.
Pengakuan Iman Nicea,
yang naskahnya dibuat pada konferensi tersebut, menetapkan
keyakinan-keyakinan Kristen yang mendasar yang dapat disepakati kedua
golongan.
Selanjutnya, Constantinus mengambil sejumlah langkah untuk menyelamatkan orang Kristen dari kehancuran, baik sebagai akibat
penganiayaan eksternal ataupun perselisihan internal. Ia juga
menetapkan agama Kristen sebagai agama negara di seluruh pemerintahan Kekaisaran Romawi.
Karena jasa-jasanya itulah, agama tersebut mulai tersebar bahkan
menjadi dominan di seluruh Eropa (karena ketika itu, Romawi menguasai
hampir seluruh daratan Eropa).
Pembagian Kekaisaran Romawi (395)
Pembagian Kekaisaran Romawi yang tunggal menjadi dua (
Kekaisaran Romawi Barat dan
Kekaisaran Romawi Timur) terjadi sekitar tahun
395 setelah kematian
Thedosius I. Pembagian kekuasaan ini dilakukan melalui serangkaian peristiwa yang saling terkait.
Pembagian Wilayah oleh Diocletian (305).
Kaisar Romawi ketika itu,
Diocletian
mulai mengalami kesulitan-kesulitan yang serius dalam menjalankan
pemerintahannya diatas daerah yang sangat luas, kesulitan ini di
antaranya :
- Daerah yang terlalu luas mengakibatkan koordinasi pusat dengan
daerah lainnya terhambat, perlu waktu berbulan-bulan agar maklumat atau
hukum dari pusat pemerintahan samapai ke daerah terpencil.
- Daerah yang terlalu luas itu juga mengakibatkan rendahnya pengawasan dan penjagaan dari serangan bangsa lain seperti Goth, Visigoth, Vandal dan Frank.
Diocletian melihat bahwa Kekaisaran Romawi tidak akan bisa bertahan
jika dipimpin oleh satu pemerintahan saja, maka ia pun membagi
Kekaisaran menjadi dua pada sekitar daerah timur
Italia (
lihat), dan menyebut pemimpinnya dengan sebutan
Augustus
- Kekaisaran Romawi Bagian Barat dengan Diocletian sebagai Augustus bagi Wilayah Barat
- Kekaisaran Romawi Bagian Timur dengan Maximian, sahabat karib Diocletian, sebagai Augustus wilayah Wilayah Timur
Walaupun begitu, kekaisaran Romawi pada saat itu
tetap menjadi suatu Kekaisaran tunggal, pemisahan menjadi Kekaisaran Romawi Barat dan Kekaisaran Romawi Timur terjadi pada masa kepemimpinan
Theodisius I.
Tetrachy (Empat Pemimpin)(285 – 324)
Diocletian, pencetus pemisahan wilayah Romawi.
Setelah wilayah Kekaisaran Romawi dibagi menjadi dua wilayah. Pada tahun 293 masing-masing
Augustus memilih
kaisar muda yang disebut
Caesar (bedakan antara
Kaisar (
Emperor) dengan
Caesar) sebagai pembantu urusan administratif dan sebagai penerus Kekaisaran jika mereka meninggal;
Galerius menjadi Caesar dibawah Dioclotian dan
Constantius Chlorus dibawah Maximian. Konstitusi ini disebut
Tetrachy dalam ilmu pemerintahan modern.
Pada awalnya, sistem ini cukup berhasil mencegah kehancuran
Kekaisaran Roma. Penurunan kekuasaan pun berlangsung dengan damai.
Setiap
Caesar, dari barat ataupun timur, menggantikan
Augustus masing-masing dan mengangkat
Caesar Baru; Galerius mengangkat keponakannya
Maximinus, dan Constantius mengangkat
Flavius Valerius Severus sebagai
Caesar
nya. Namun keadaan berubah ketika Constantius Chlorus meninggal pada
tanggal 25 Juli 306. Pasukan Constantius di daerah Eboracum segera
mengangkat
Constantine, anak Constantius, sebagai Augustus. Dan pada bulan agustus pada tahun yang sama,
Galerius juga memutuskan untuk mengangkat Severus menjadi Augustus.
Ketika ketidakpuasan merajalela, Roma dihadapkan pada sebuah revolusi yang menginkan
Maxentius
anak Maximian, menjadi Augustus (akhirnya ia menjadi Augustus pada
tanggal 28 Oktober 306). Berbeda dengan yang lainnya, pengangkatan
Maxentius ini didukung oleh pasukan
Praetorian. Hal ini menyebabkan Kekaisaran memiliki 5 pemimpin: Empat Augustus (Galerius, Constantine, Severus dan Maxentius) dan seorang
Caesar (Maximinus)
Dan pada tahun 307,
Maximian
juga memproklamirkan dirinya sebagai Augustus, bersebelahan dengan
anaknya Maxentius (sehingga secara total, ada 6 orang Augustus di
Kekaisaran Romawi yaitu : Maximinus, Maximian, Maxitius, Galerius,
Constantine dan Severus). Namun hal ini tidak disetujui oleh Galerius
dan Severus, sehingga menimbulkan perang saudara di daerah Italia.
Akhirnya, Serverus terbunuh di tangan Maxentius pada tanggal 16
September 307. Keduanya (Maximinus dan Maxentius) pun berusaha memikat
Constantine untuk bekerjasama dengan cara menjodohkan Constantine dengan
Fausta, anak Maximian sekaligus kakak kandung Maxentius.
Keadaan semakin rumit ketika
Domitius Alexander,
Vicarius (semacam Gubernur) dari Provinsi Afrika memproklamirkan diri
sebagai Augustus pada 308. Melihat perkembangan ini, maka diadakanlah
Kongres Carnuntum yang dihadiri oleh Diocletian, Maximian, and Galerius. Kongres ini menghasilkan keputusan antara lain :
- Galerius menjadi Augustus di Kekaisaran Romawi Wilayah Timur
- Maximinus menjadi Caesar di Kekaisaran Romawi Wilayah Timur
- Maxentius tidak diakui, kepemimpinannya dianggap ilegal
- Constantine mendapat pengakuan, namun jabatannya di turunkan menjadi Caesar di Kekaisaran Romawi Bagian Barat
- Licinius menggantikan Maximian sebagai Augustus di Kekaisaran Romawi Wilayah Barat
Namun masalah terus berlanjut. Maximinus menuntut agar gelarnya
sebagai Augustus dikembalikan. Akhirnya dia memproklamirkan dirinya
kembali sebagai Augustus pada tanggal 1 Mei 310. Diikuti oleh Maximian
yang memproklamairkan dirinya, untuk yang ketiga kalinya, menjadi
Augustus. Namun ia (Maximian) tewas dibunuh oleh menantu-nya sendiri,
Constantine, pada bulan Juli 310. Pada akhir tahun 310, Kekaisaran
Romawi masih dipimpin oleh 4 Augustus resmi (Galerius, Maximinus,
Constantine, dan Licinius) dan seorang Augustus ilegal (Maxentius)
Galerius, dalam koin Romawi.
Galerius tewas pada bulan Mei 311 meninggalkan Maximinus sebagai
penguasa tunggal Kekaisaran Romawi Wilayah Timur. Disaat bersamaan,
Maxentius mendeklarasikan perang terhadap Constantine, yang telah
membunuh ayahnya (Maximian adalah ayah kandung Maxentius). Namun
peperangan itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ia tewas dalam
suatu pertempuran melawan Constantine,
Pertempuran di Jembatan Milvian, pada tanggal 28 Oktober 312.
Akibat kematian Maxentius, Augusti (kata jamak dari Augustus) hanya
bersisa 3 orang; Maximinus, Constantine, dan Licinius. Licinius kemudian
menikahi Constantia, adik Constantine, untuk mengikat persahabatan
dengan Constantine.
Pada bulan Agustus 313, Maximinus tewas di daerah
Tarsus,
Cilicia.
Augusti yang tersisa (Licius dan Constantine) akhirnya sepakat membagi 2
wilayah Kekaisaran Romawi, seperti yang dilakukan oleh Diocletian;
Constantine di Kekaisaran Romawi Bagian Barat, dan Lucius di Kekaisaran
Romawi Bagian Timur.
Pembagian kekuasaan ini berlangsung selama sepuluh tahun. Samapai
pada tahun 324, peperangan antara dua Augusti yang tersisa terjadi.
Peperangan ini berakhir dengan kekalahan Lucius, menjadikan Constantine
sebagai penguasa tunggal di seluruh Kekaisaran Romawi.
Kemudian Constantine memutuskan bahwa Kekaisaran yang hampir musnah
ini, membutuhkan ibukota baru sebagai pusat pemerintahan. Ia memutuskan
memindahkan pusat pemerintahan ke Kota kuno
Byzantium dan mengubah namanya menjadi
Nova Roma (namun dikemudian hari, kota ini dikenal dengan
Constantinople,
kota Constantine). Constantineople terus menjadi pusat pemerintahan
Constantine yang agung sampai kematiannya pada tanggal 22 Mei 337.
Theodosius I, Kaisar Terakhir (395)
Pada tahun 392,
Valentinian tewas di
Vienne.
Theodosius I menggantikan dia, memerintah seluruh Kekaisaran Romawi.
Theodosius mempunyai dua putra (
Arcadius dan
Honorius)
dan seorang putri bernama Pulcheria, dari istri pertamanya, Aelia
Flacilla. Putri dan istrinya pertamanya kemudian tewas pada tahun 385.
Dari istri keduanya, Galla, dia mendapatkan seorang putri, Galla
Placidia, ibu dari Valentinian III, seseorang yang kemudian menjadi
Kaisar di Kekaisaran Romawi Barat.
Setelah kematiannya pada tahun 395, kekuasaannya dibagi kepada dua
anaknya Arcadius dan Honorius; Arcadius menjadi penguasa Kekaisaran
Romawi Timur, dengan ibukota Konstantinopel, dan Honorius menjadi
penguasa di Barat, dengan ibukota Milan. Pembagian ini dianggap sebagai
akhir dari
Kekaisaran Romawi yang Tunggal.
Pertempuran Adrianople (378)
Pertempuran Adrianople (9 Agustus 378) adalah pertempuran antara Tentara Romawi yang dipimpin Kaisar Valens dan suku Jerman (
Germanic Tribes,
kebanyakan berasal dari suku Visigoths dan Ostrogoths) dipimpin oleh
Fritigern. Pertempuran terjadi di daerah Adrianople dan berakhir dengan
kekalahan telak Kekaisaran Romawi. Pertempuran ini mengakibatkan
tewasnya
Kaisar Valens.
Daftar kaisar Romawi
Berikut ini adalah
daftar kaisar Romawi dari
Caesar (59 SM) hingga kaisar tunggal terakhir,
Theodosius I (392 – 395), sebelum kekaisaran Romawi pecah menjadi
kekaisaran Romawi Barat dan
kekaisaran Romawi Timur:
Catatan : Tahun yang tertulis adalah tahun jabatan (bukan tahun kelahiran – kematian)
Principatus
Pencetus dan pendiri Kekaisaran Romawi (49 SM – 14 M)
Tahun Empat Kaisar (68 – 69)
Lima Kaisar Baik (96 – 180)
Krisis di Abad Ketiga (235 – 284)
Catatan :
Krisis abad ke-3 biasa digunakan untuk menggambarkan
sebuah keadaan kacau di Kekaisaran Romawi antara tahun 235 dan 284,
yang hampir menyebabkan kehancuran Kekaisaran Romawi. Pada periode ini,
Kekaisaran dipimpin oleh kira-kira 25 Kaisar. Periode ini dianggap
berakhir setelah
Diocletian berkuasa.
Dominatus
Tetrarki (285 – 324)
Konstantinus Agung (324 – 337)
Anak-anak Konstantinus (337 – 361)
Catatan :
Konstantinus II dan Konstans kemudian tewas, meninggalkan Konstantius II sebagai penguasa tunggal.
Julian dan Jovian (361 – 364)
Kaisar Tunggal Terakhir (392 – 395)
Catatan kaki
- ^ Since classical and modern concepts of state do not coincide, other possibilities include Res publica Romana, Imperium Romanum or Romanorum (also in Greek: Βασιλείᾱ τῶν Ῥωμαίων – Basileíā tôn Rhōmaíōn – ["Dominion (Literally 'kingdom') of the Romans"]) and Romania. Res publica, as a term denoting the Roman "commonwealth" in general, can refer to both the Republican and the Imperial era, while Imperium Romanum (or, sometimes, Romanorum) is used to refer to the territorial extent of Roman authority. Populus Romanus, "the Roman people", is often used for the Roman state dealing with other nations. The term Romania,
initially a colloquial term for the empire's territory as well as the
collectivity of its inhabitants, appears in Greek and Latin sources from
the fourth century onward and was eventually carried over to the Byzantine Empire. (See Wolff, R.L. "Romania: The Latin Empire of Constantinople". In: Speculum, 23 (1948), pp. 1–34 (pp. 2–3).)
- ^ Dalam pertikaian Akhir Republik, ratusan senator dibunuh atau meninggal, dan Senat Romawi diisi kembali dengan orang-orang pendukung Triumvirat Pertama dan kemudian dengan para pendukung Triumvirat Kedua.
- ^ Oktavianus/Augustus
secara resmi mengumumkan bahwa dia telah menyelamatkan Republik Romawi
dan secara hati-hati menyamarkan kekuasaannya di bawah bentuk republik; konsul terus dipilih, tribunus kaum plebeian terus mengusulkan undang-undang, dan senator masih berdiskusi di Curia Romawi.
Akan tetapi, Oktavianus sendirilah, serta para kaisar berikutnya, yang
menentukan segalanya dan mengendalikan keputusan akhir, dan memiliki legiun untuk membantunya jika dibutuhkan.